Perkuat Perdagangan, Jangan Meniggalkan Jepang

Senin, 30 Maret 2026 - 09:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof Didik J. Rachbini. Foto: Paramadina

Prof Didik J. Rachbini. Foto: Paramadina

Jaktara – Presiden Prabowo Subianto sangat sering  berkunjung ke luar negeri dengan harapan ada hasil dari diplomasi politik dan ekonomi tersebut.  Minggu ini Presiden berkunjung ke Jepang, negara yang menjadi mitra dagang sudah setengah abad dan pengarunya sangat besar terhadap ekonomi Indonesia selama ini.

Karena itu, kerjasama dan hubungan ekonomi perdagangan bukan hanya harus terus dijaga tetapi harus ditingkatkan. Jepang sebagai mitra dagang utama sangat potensial untuk memajukan perdagangan luar negeri Indonesial.

Perdagangan Indonesia dengan Jepang bersifat komplementer, saling melengkapi sehingga bersifat win-win dimana kedua negara mendapat manfaat yang optimal untuk mengembangkan cadangan devisanya masing-masing.

Sementara itu, perdagangan dengan mitra dagang lainnya, seperti perdagangan dengan cina bersifat substitusi saling menggantikan dan saling menegasi sehingga cenderung bersaing saling mematikan dan merugikan yang lemah – dalam hal ini Indonesia.

Sifat hubungan dagang dengan China saling ber substitusi kompetisi pada produk-produk yang sejenis. Indonesia dan Cina memiliki produk-produk ekspor pertanian, pangan dan perkebunan yang sama.  Sama dengan Indonesia, Cina juga mengekspor barang industri manufaktur seperti tekstil, elektronik dan lainnya.

Hubungan dagang yang saling mensubstitusi seperti ini bermasalah bagi Indonesia karena produk dan industri domestik kalah bersaing karena  harganya murah. Deindustrialisasi dini (premature deindustrialization) juga terjadi karena industri dalam negeri diterpa persaingan dagang yang bersifat substitusi seperti ini.

Selain itu, neraca perdagangan sektor manufaktur terus defisit dan juga muncul tekanan pada industri UMKM yang berubah menjadi distributor barang impor Cina.

Berbeda dangan ekonomi Cina, ekonomi Jepang memang tumbuh rendah tetapi skala ekonominya masih  sangat besar dan raksasa.  Ekonomi Jepang adalah ekonomi yang besar bersama dengan ekonomi AS, Cina, India, Jerman dan lainnya.

Jadi dengan kunjungan Presiden Prabowo Tim ekonominya harus memaksimalkan kunjungan ini bukan hanya diplomasi sambilan.

Tim ekonomi Indonesia pasca kunjungan harus merancang promosi  kerjasama dengan jepang karena sifat yang komplementer dan saling menguntungkan  tersebut. Jepang melakukan impor dari Indonesia energi, batubara, LNG, produk pertanian, perikanan dan sebagainya.

Sedangkan ekspor Jepang ke Indonesia berupa mesin-mesin, barang teknologi tinggi dan investasi iindustri.  Perdagangan komplementer seperti ini lebih menguntungkan dan bermakna ekonomi karena terjadi penguatan value chain keduanya dimana Indonesia masuk ke dalam rantai pasok global.  Dampaknya, ada transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja industri dan penguatan manufaktur (otomotif, elektronik)

Catatan: Artikel ini merupakan pandangan dari Prof. Didik J Rachbini, Ph.D, Ekonom Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina. Seluruh isi artikel tidak mencerminkan pandangan Redaksi Jaktara.com.

Penulis : Didik J Rachbini

Berita Terkait

Menyelamatkan Tahu-Tempe, Melindungi Hak Hidup Petani Kedelai
Jakarta Mahal: Mengubah Bonus Demografi Menjadi Produktivitas Kota
Gerakan Buruh dan Koperasi
Tragedi Bekasi Timur: Alarm Keras Reformasi Sistem Keselamatan Kereta Api Nasional
WFH Jumat: Misi Penghematan atau Ilusi Pelesiran?
Tanpa Pembenahan Penyeberangan, Kelancaran Mudik Nasional Sulit Optimal
Saat Kritik Dibalas Ancaman Nyawa
Lebaran 2026: Ilusi Diskon di Tengah Keroposnya Daya Beli

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 11:00 WIB

Menyelamatkan Tahu-Tempe, Melindungi Hak Hidup Petani Kedelai

Kamis, 7 Mei 2026 - 11:02 WIB

Jakarta Mahal: Mengubah Bonus Demografi Menjadi Produktivitas Kota

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:16 WIB

Gerakan Buruh dan Koperasi

Selasa, 28 April 2026 - 21:00 WIB

Tragedi Bekasi Timur: Alarm Keras Reformasi Sistem Keselamatan Kereta Api Nasional

Selasa, 31 Maret 2026 - 21:00 WIB

WFH Jumat: Misi Penghematan atau Ilusi Pelesiran?

Berita Terbaru

Ekonomi & Bisnis

Suku Bunga Pinjaman PNM Mekar Turun Jadi 8 Persen

Senin, 22 Jun 2026 - 20:41 WIB