Hilirisasi Bauksit Kunci RI Lepas dari Middle Income Trap

Senin, 2 Maret 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meresmikan injeksi bauksit perdana untuk proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 1 PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) yang berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat pada Selasa (24/09/2024). (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meresmikan injeksi bauksit perdana untuk proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 1 PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) yang berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat pada Selasa (24/09/2024). (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden).

Jaktara – Sebagai salah satu pemilik cadangan bauksit terbesar di dunia yang mencapai 2,9 miliar ton, Indonesia selama ini justru merugi karena lebih banyak menjualnya secara murah ke luar negeri, bahkan cenderung terjebak menjadi pengimpor aluminium sejak 2008 karena belum kuatnya industri pengolahan di dalam negeri untuk mengolah bauksit menjadi alumina maupun aluminium.

“Hilirisasi merupakan jalan keluar nyata bagi Indonesia untuk memperkuat struktur industri nasional dan menghentikan kebiasaan menjual bauksit secara mentah. Dari hasil analisis yang kami lakukan, potensi nilai tambah dari bauksit menjadi alumina bisa melonjak hingga 8 kali lipat, apalagi bauksit menjadi aluminium bisa mencapai 59 kali lipat,” ungkap Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Christiantoko menegaskan bahwa hilirisasi bauksit bisa menjadi salah satu kunci keluar bagi Indonesia untuk bisa lepas dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Hal ini didukung oleh pembangunan proyek hilirisasi bauksit-aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, senilai US$6,32 miliar atau sekitar Rp104,5 triliun.

Proyek besutan MIND ID yang dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia—entitas hasil kolaborasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum)—menjadi simbol transformasi besar Indonesia dari eksportir bahan mentah menuju produsen aluminium bernilai tambah tinggi, dengan target operasi penuh pada periode 2028-2029.

Dari hasil riset NEXT Indonesia Center, pada 2024 harga komoditas bauksit di pasar internasional sekitar US$59 per ton. Ketika jadi alumina, nilainya mencapai US$478 per ton alias 8,1 kali lipat. Bahkan jika diolah menjadi aluminium, —jika dihitung dengan harga rata-rata 20 tahun terakhir (2006-2025)—, nilai tambahnya melonjak jadi 59 kali lipat.

“Selisih harga yang sangat lebar antara bauksit mentah dan produk turunannya, menunjukkan betapa besarnya potensi ekonomi yang selama ini hilang karena kita hanya berhenti di tahap hulu,” pungkasnya.

Ketimpangan tersebut selama ini dinikmati oleh negara pengolah seperti Tiongkok yang berhasil meraup pendapatan US$175,6 miliar dari ekspor aluminium sepanjang 2020-2024. Padahal, pada periode yang sama, Indonesia hanya mendapatkan US$1,9 miliar dari ekspor bauksit yang seluruhnya dikirim ke Negeri Tirai Bambu tersebut.

“Fakta ini menunjukkan bahwa penguasaan teknologi smelter jauh lebih menentukan posisi ekonomi global dibanding sekadar kepemilikan tambang. Bahkan, negara-negara seperti Jerman, Kanada, dan Uni Emirat Arab sudah membuktikan bahwa mereka bisa merajai industri aluminium tanpa perlu memiliki tambang bauksit sendiri,” ungkapnya.

Kondisi ini kian mendesak mengingat ketergantungan Indonesia terhadap impor aluminium yang sangat tinggi, sementara kebutuhan di dalam negeri diperkirakan melonjak tajam dari 1.200 kilo ton per annum (ktpa) pada 2025 menjadi 8.500 ktpa pada tahun 2055.

“Tanpa industri pengolahan sendiri, Indonesia akan terus mengalami kebocoran ekonomi karena harus membiayai impor produk bernilai tinggi yang bahan bakunya berasal dari negeri sendiri. Sudah waktunya Indonesia benar-benar menjaring nilai tambah bauksit yang selama ini terlepas demi kesejahteraan rakyat yang lebih luas,” tutup Christiantoko.

Berita Terkait

YLKI Desak Prabowo Turun Tangan Atasi Persoalan Listrik
Bahlil Semprot PLN Soal Pemadaman Bergilir: Segera Atasi Masalah Teknis!
Dua Pembangkit Besar Gangguan, PLN Lakukan Pengaturan Pasokan Listrik Jawa
Pertagas Group Perkuat Dukungan Energi bagi Industri di KEK Sei Mangkei
Serikat Pekerja PLN Indonesia Power Services Tolak Permenaker 7/2026, Ancam Aksi Lebih Besar Jika Tak Direvisi
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 dan Pertamax Green Rp17.000 per Liter
Indonesia Peringkat ke-2 Dunia Negara Paling Tahan Guncangan Energi 2026
Harga Minyak Mentah RI Tembus 102,26 Dolar AS per Barel di Maret 2026

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 13:46 WIB

YLKI Desak Prabowo Turun Tangan Atasi Persoalan Listrik

Sabtu, 20 Juni 2026 - 22:16 WIB

Bahlil Semprot PLN Soal Pemadaman Bergilir: Segera Atasi Masalah Teknis!

Jumat, 19 Juni 2026 - 19:56 WIB

Dua Pembangkit Besar Gangguan, PLN Lakukan Pengaturan Pasokan Listrik Jawa

Kamis, 18 Juni 2026 - 13:06 WIB

Pertagas Group Perkuat Dukungan Energi bagi Industri di KEK Sei Mangkei

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:59 WIB

Serikat Pekerja PLN Indonesia Power Services Tolak Permenaker 7/2026, Ancam Aksi Lebih Besar Jika Tak Direvisi

Berita Terbaru

Ekonomi & Bisnis

Suku Bunga Pinjaman PNM Mekar Turun Jadi 8 Persen

Senin, 22 Jun 2026 - 20:41 WIB