Jaktara – Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer atau Noel, meluapkan amarahnya terkait proses hukum yang sedang menyeret namanya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Ia menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan dari pihak mana pun selain perintah pengadilan.
Noel bahkan secara terang-terangan menyerang kredibilitas lembaga antirasuah tersebut dengan menyebut oknum di dalamnya sebagai sosok yang tidak jujur.
“Yang bisa memerintah saya itu pengadilan, bukan juru bicara apalagi komisioner KPK. KPK ini isinya orang-orang ‘bocil’: bohong, licik, dan liar,” cetusnya saat ditemui awak media, dikutip dari akun TikTok @immanuelebenezerofficial, dikutip Selasa (3/2/2026).
Sebut OTT Sebagai Rekayasa
Ia juga menyindir prosedur Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang sering dibanggakan KPK. Menggunakan istilah pelesetan, ia menuding bahwa tindakan tersebut hanyalah titipan atau tipu muslihat belaka.
“OTT itu nipu semua. O-tipu-tipu, kalau enggak O-tipu-tipu? O-tipipan,” ujarnya sinis.
Dalam pembelaannya, ia memaparkan dua poin utama yang menurutnya membuktikan dirinya tidak bersalah. Pertama minimnya saksi.
Ia mengklaim bahwa dalam persidangan hari Senin lalu, dari lima saksi yang dihadirkan, tidak ada satu pun yang menyebutkan namanya terlibat.
Kedua Neol menegaskan bahwa peristiwa yang disangkakan terjadi sebelum ia menjabat sebagai Wamenaker. Ia menduga ada motif politik atau bisnis di balik kasus ini.
“Ada pengusaha atau pejabat yang terganggu dengan kebijakan saya. Itu yang pasti. Apalagi narasinya saya dibilang memeras pengusaha,” tambahnya.
Kritik Nasib Buruh dan Outsourcing
Alih-alih mengusut kasusnya, ia justru balik menyerang KPK karena dianggap tutup mata terhadap penderitaan jutaan buruh yang dieksploitasi melalui sistem outsourcing.
“KPK ke mana? Kerjaannya cuma o-tetek, o-tetek, o-titip. Jutaan buruh itu diperas pengusaha dan outsourcing. Ke mana itu KPK-KPK itu?,” ucapnya mempertanyakan.
Menutup pernyatannya, mantan aktivis ini memperingatkan pihak-pihak yang mencoba menjatuhkannya bahwa ia tidak akan tinggal diam. Meski merasa dijinakkan oleh sistem, ia merasa taringnya masih ada.
“Jangan salahkan saya. Saya lahir di dunia jalanan, dari dunia aktivis. Mungkin dulu saya singa lapangan, sekarang saya singa sirkus. Tapi singa sirkus, walaupun meraung, tetap menakutkan!” pungkasnya.









