Jaktara – Bitcoin (BTC) disebut berpotensi rebound hingga US$85.000 setelah sejumlah analis menyoroti kemunculan pola teknikal triple bottom di tengah konsolidasi harga yang ketat. Proyeksi tersebut muncul saat sentimen pasar berada di level ketakutan ekstrem.
Saat artikel ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan di US$65.346, naik sekitar 3% dalam 24 jam terakhir. Namun secara mingguan, BTC masih melemah hampir 6%, mencerminkan tekanan jual yang belum sepenuhnya reda.
Meski harga masih bergerak sideways, sejumlah indikator teknikal mulai menarik perhatian pasar.
Pola Triple Bottom dan Proyeksi US$85.000
Beberapa analis mencatat Bitcoin sedang membentuk pola triple bottom, yaitu pola pembalikan bullish yang muncul ketika harga menguji level support yang sama beberapa kali tanpa menembusnya.
Sumber Gambar: X.com/martypartymusic
Analis MartyParty juga menyoroti pola double bottom pada ETF teknologi BlackRock (IGV). Ia menyebut korelasi historis antara Bitcoin dan indeks tersebut mencapai 0,92.
“Pola baru muncul pada BlackRock IGV. Terbentuk double bottom dengan target di level 95. Dengan korelasi Bitcoin sebesar 0,92 terhadap indeks tersebut, pola ini memproyeksikan Bitcoin berpotensi membentuk double bottom menuju US$84.000. Mari kita pantau perkembangannya,” jelasnya.
Jika pola pada pasar ekuitas tersebut terealisasi ke atas, proyeksi harga Bitcoin dapat mengarah ke kisaran US$84.000 hingga US$85.000.
Korelasi ini menunjukkan bahwa pergerakan Bitcoin saat ini turut dipengaruhi dinamika saham teknologi, bukan hanya faktor internal pasar kripto.
Fear & Greed Index Sentuh Extreme Fear
Sumber Gambar: zycrypto
Sentimen pasar turut menjadi sorotan. Fear & Greed Index Bitcoin sempat turun ke angka 5, yang masuk kategori Extreme Fear. Level ini tergolong sangat rendah dan jarang terjadi.
Sejumlah analis membandingkan kondisi tersebut dengan periode akhir 2018, crash Maret 2020, serta fase koreksi besar pada 2022. Pada periode-periode tersebut, sentimen ekstrem muncul mendekati fase dasar sebelum terjadi pemulihan signifikan.
Meski begitu, kondisi ketakutan ekstrem tidak otomatis menjamin pembalikan harga dalam waktu dekat.
Area Kritis: US$70.000 Jadi Penentu
Sumber Gambar: X.com/DVSignals
Dari sisi teknikal jangka pendek, Bitcoin disebut berada tepat di area channel support dan tertekan dalam pola falling wedge. Jika harga tidak segera bergerak naik dari zona ini, risiko tekanan lanjutan masih terbuka.
“BTC perlu bertahan di area ini sekarang juga. Harga sedang berada tepat di level channel support dengan pola falling wedge yang semakin tertekan. Jika tidak segera bergerak naik dari zona ini, pergerakan berikutnya berpotensi menjadi penurunan tajam lanjutan,” ujar analis DeepValue.
Sumber Gambar: X.com/columbus0x
Analis Columbus mencatat Bitcoin saat ini bergerak dalam rentang sempit sekitar US$67.000–US$68.000, dengan likuiditas tebal di atas US$70.000 dan penumpukan bid di area pertengahan US$60.000.
Kondisi kompresi harga seperti ini sering mendahului pergerakan besar. Break tegas di atas US$69.500–US$70.000 dinilai dapat membuka ruang kenaikan lebih lanjut, termasuk menguji proyeksi US$85.000. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan support berpotensi memicu penurunan lanjutan.