Harga Minyak Mentah Brent Melonjak, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Senin, 23 Maret 2026 - 11:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi minyak dunia naik [Unsplash/Alex W]

Ilustrasi minyak dunia naik [Unsplash/Alex W]

Jaktara – Harga minyak mentah dunia, khususnya Brent Crude Oil, menunjukkan tren penguatan signifikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Minyak Brent bHkan diperkirakan bergerak di kisaran 110 hingga 116 dolar AS per barel.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan kenaikan ini didorong oleh meningkatnya risiko pasokan, seiring eskalasi konflik yang melibatkan Iran dan Israel.

Iran yanh merupakan salah satu produsen utama minyak jenis Brent bersama Irak, dilaporkan terus melancarkan serangan jarak jauh ke sejumlah target strategis, termasuk fasilitas energi dan kepentingan militer di kawasan.

ADVERTISEMENT

ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jadi yang terlihat penguatannya cukup tajam itu adalah brain crude oil kenapa? Karena Iran salah satu negara penghasil ya Iran, Irak salah satu penghasil brain crude oil ya untuk bahan bakar avtur,” kata Ibrahim dalam pernyataannya kepada wartawan, Minggu (21/3/2026).

Di sisi lain, lanjut Ibrahim, konflik di Eropa Timur juga turut memperparah kondisi. Rusia dilaporkan melanjutkan serangan terhadap infrastruktur gas di Ukraina, yang semakin menekan pasokan gas alam dunia.

“Ini membuat kemungkinan besar harga minyak gas alam ini akan terus mengalami kenaikan ya secara permanen ya yang kemungkinan besar akan cukup lama kenaikannya,” jelas dia.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyampaikan bahwa sensitivitas APBN terhadap pergerakan harga minyak masih tinggi, seiring dengan konsumsi energi domestik yang besar dan ketergantungan pada energi fosil.

“Setiap kenaikan harga minyak USD1 per barel bisa menambah beban subsidi energi sekitar Rp6,7 triliun. Ini jauh lebih besar dibandingkan tambahan penerimaan negara dari sektor migas,” ujar Fabby dalam keterangannya kepada Warta Ekonomi, dikutip Minggu (22/3/20206).

Ia menjelaskan, pergerakan harga minyak global menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi postur belanja negara, khususnya pada komponen subsidi dan kompensasi energi.

Dalam beberapa skenario, ketika harga minyak berada di kisaran USD80 hingga USD110 per barel, tambahan beban subsidi disebut dapat meningkat signifikan.

Berita Terkait

YLKI Desak Prabowo Turun Tangan Atasi Persoalan Listrik
Bahlil Semprot PLN Soal Pemadaman Bergilir: Segera Atasi Masalah Teknis!
Dua Pembangkit Besar Gangguan, PLN Lakukan Pengaturan Pasokan Listrik Jawa
Pertagas Group Perkuat Dukungan Energi bagi Industri di KEK Sei Mangkei
Serikat Pekerja PLN Indonesia Power Services Tolak Permenaker 7/2026, Ancam Aksi Lebih Besar Jika Tak Direvisi
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 dan Pertamax Green Rp17.000 per Liter
Indonesia Peringkat ke-2 Dunia Negara Paling Tahan Guncangan Energi 2026
Harga Minyak Mentah RI Tembus 102,26 Dolar AS per Barel di Maret 2026
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 13:46 WIB

YLKI Desak Prabowo Turun Tangan Atasi Persoalan Listrik

Sabtu, 20 Juni 2026 - 22:16 WIB

Bahlil Semprot PLN Soal Pemadaman Bergilir: Segera Atasi Masalah Teknis!

Jumat, 19 Juni 2026 - 19:56 WIB

Dua Pembangkit Besar Gangguan, PLN Lakukan Pengaturan Pasokan Listrik Jawa

Kamis, 18 Juni 2026 - 13:06 WIB

Pertagas Group Perkuat Dukungan Energi bagi Industri di KEK Sei Mangkei

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:59 WIB

Serikat Pekerja PLN Indonesia Power Services Tolak Permenaker 7/2026, Ancam Aksi Lebih Besar Jika Tak Direvisi

Berita Terbaru