Jaktara – Kementerian Keuangan mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun pada kuartal I-2026. Defisit ini terjadi lantaran belanja negara lebih tinggi dibandingkan pendapatan.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan sampai dengan tiga bulan pertama (Januari-Maret) pendapatan negara hanya mampu terkumpul Rp574,9 triliun. Sedangkan belanja negara sudah terealisasi Rp815,0 triliun.
“Dengan demikian, defisit APBN sebesar Rp240,1 triliun rupiah atau 0,93 persen terhadap PDB. Jadi ketika ada defisit, masyarakat, bapak-bapak dan ibu-ibu jangan kaget memang anggaran kita didesain defisit,” kata Purbaya di Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026).
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Purbaya menjelaskan defisit pada awal tahun juga dipengaruhi percepatan realisasi belanja pemerintah.
Secara historis, kata dia, rata-rata penyerapan belanja negara pada triwulan pertama hanya sekitar 17 persen dari total APBN. Namun pada triwulan I 2026, realisasi belanja telah mencapai 21,2 persen.
“Ini by design percepatan belanja seperti yang saya bilang tadi, anggarannya sudah ada, KL kerja lebih cepat,” ungkap dia.
Purbaya memperkirakan dengan percepatan belanja tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 berpotensi mencapai sekitar 5,5 persen atau bahkan lebih tinggi. Ini seiring meningkatnya aktivitas belanja pemerintah dan konsumsi domestik.
“Saya pikir kemungkinan besar sekali tercapai di 5,5 persen atau lebih,” ungkap dia.







