Skenario Terburuk Bitcoin Jika Minyak Naik ke $200 karena Perang Iran-AS

Rabu, 18 Maret 2026 - 04:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi bitcoin.

Ilustrasi bitcoin.

Jaktara – Ketegangan antara Iran dan AS kembali memicu kekhawatiran pasar global, terutama setelah muncul proyeksi harga minyak bisa melonjak hingga $200 per barel. Kondisi ini berpotensi mempengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Saat ini, Bitcoin bergerak di kisaran $74.000 – $75.000, setelah sebelumnya sempat mengalami fluktuasi akibat sentimen geopolitik dan pasar energi.

Jika harga minyak benar-benar naik ke $200, dampak pertama yang muncul adalah pergeseran likuiditas global.

Dikutip dari Usethebitcoin, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang sedang mengalami kenaikan tajam. Dalam skenario ini, minyak berpotensi menjadi pusat perhatian, sehingga aliran dana ke pasar kripto bisa berkurang.

Selain itu, kenaikan minyak biasanya memicu inflasi global. Ketika inflasi meningkat, kebijakan moneter cenderung lebih ketat, yang berujung pada tekanan terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.

Kondisi Bitcoin Hari Ini

Sumber: TradingView

Di tengah konflik yang berlangsung, Bitcoin masih menunjukkan ketahanan bahkan berhasil naik ke kisaran $74.000 – $75.000.

Namun, jika harga minyak terus naik, analis memperkirakan Bitcoin berpotensi masuk fase konsolidasi.

Artinya, harga bisa bergerak dalam rentang terbatas tanpa tren naik yang jelas. Dalam skenario terburuk, tekanan likuiditas dan sentimen global dapat membuat Bitcoin kembali turun ke area support yang lebih rendah.

Hal ini terutama terjadi jika investor global lebih memilih eksposur ke komoditas energi dibanding aset digital.

Ketidakpastian Global Bisa Perbesar Volatilitas

Faktor tambahan datang dari ketidakpastian geopolitik yang semakin kompleks.

Penutupan jalur distribusi minyak strategis serta perubahan mekanisme pembayaran energi global berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi.

Situasi ini biasanya membuat pelaku pasar lebih defensif. Dalam kondisi seperti ini, aset seperti Bitcoin bisa mengalami volatilitas tinggi, karena sensitif terhadap perubahan sentimen dan arus dana global.

Jika harga minyak benar-benar menembus $200, dampaknya diprediksi tidak hanya dirasakan sektor energi, tetapi juga pasar kripto.

Bitcoin berpotensi menghadapi tekanan dari sisi likuiditas, inflasi, dan perubahan preferensi investor global.

Dalam skenario ekstrem, Bitcoin bisa tertahan dalam fase konsolidasi atau mengalami tekanan jangka pendek sebelum menemukan arah baru.

Berita Terkait

Miris, 0,12% Rekening Kaya Kuasai 70% Total Simpanan Bank di Indonesia
Pemerintah Bongkar Dugaan Mafia Beras, Kerugian Negara Tembus Rp71 T
KKP Dukung Pemanfaatan Ruang Laut untuk Lindungi Mangrove & Populasi Kerang Dara di Belitung
Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur Bank Indonesia
Bandara Husein Sastranegara Kantongi Sertifikat Layani Pesawat Jet Sekelas Boeing 737-800
Pemerintah Resmi Gelontorkan Stimulus Ekonomi Rp26,34 Triliun untuk Semester II-2026
Suku Bunga Pinjaman PNM Mekar Turun Jadi 8 Persen
Seskab Teddy Ungkap Arahan Prabowo soal Transformasi BUMN dan Optimalisasi Aset Negara

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:05 WIB

Miris, 0,12% Rekening Kaya Kuasai 70% Total Simpanan Bank di Indonesia

Senin, 3 Agustus 2026 - 18:09 WIB

Pemerintah Bongkar Dugaan Mafia Beras, Kerugian Negara Tembus Rp71 T

Senin, 3 Agustus 2026 - 14:22 WIB

KKP Dukung Pemanfaatan Ruang Laut untuk Lindungi Mangrove & Populasi Kerang Dara di Belitung

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:28 WIB

Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur Bank Indonesia

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:24 WIB

Bandara Husein Sastranegara Kantongi Sertifikat Layani Pesawat Jet Sekelas Boeing 737-800

Berita Terbaru

Ekonomi & Bisnis

Miris, 0,12% Rekening Kaya Kuasai 70% Total Simpanan Bank di Indonesia

Senin, 3 Agu 2026 - 19:05 WIB

Ekonomi & Bisnis

Pemerintah Bongkar Dugaan Mafia Beras, Kerugian Negara Tembus Rp71 T

Senin, 3 Agu 2026 - 18:09 WIB