Menakar Ketahanan Energi Nasional di Tengah Perang Iran-AS

Kamis, 12 Maret 2026 - 09:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi lapangan migas minyak mentah.

Ilustrasi lapangan migas minyak mentah.

Jaktara – Perang antara Iran dengan Israel-Amerika Serikat memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan minyak dan BBM global, termasuk untuk Indonesia. Hal itu disebabkan akibat terhambatnya distribusi minyak dan BBM di Selat Hormuz akibat perang.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menilai dampaknya ke dalam negeri masih kecil. Dia mengatakan ketahanan pasokan minyak mentah dan BBM Indonesia kemungkinan masih relatif aman meskipun sedang terjadi perang di Iran dan wilayah Timur Tengah.

“Stok operasional dan kemampuan pasok BBM di dalam negeri tetap berpeluang untuk dapat dipertahankan seperti periode sebelum terjadinya perang,” ucap dia dalam keterangannya, Kamis (12/3/2026).

Jika mencermati neraca impor minyak dan BBM Indonesia, dampak atas terganggunya distribusi minyak di Selat Hormuz terhadap pasokan BBM Indonesia relatif masih dapat terkelola.

Porsi impor minyak dan BBM nasional pada tahun 2025 yang melewati Selat Hormuz masing-masing adalah 18,13% dan 14,23%. Artinya distribusi sekitar 81,87% impor minyak dan 85,77% impor BBM Indonesia tidak melalui Selat Hormuz.

Sebagai upaya untuk meminimalkan risiko, maka Indonesia perlu mencari alternatif pengganti impor minyak mentah dan BBM yang melalui Selat Hormuz. Seluruh impor minyak mentah Indonesia yang menggunakan rute distribusi Selat Hormuz berasal dari Arab Saudi.

Sementara, impor BBM Indonesia yang menggunakan rute distribusi Selat Hormuz berasal dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain.

“Alternatif pengganti minyak mentah dan BBM yang menggunakan rute distribusi Selat Hormuz paling tidak dapat menggunakan dua skenario,” kata Komaidi.

Skenario pertama adalah mengganti sumber pasokan, untuk sementara tidak mengimpor dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Kedua, tetap mengimpor dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain tetapi dengan mengubah rute distribusi agar tidak melalui SelatHormuz.

“Pilihan skenario ditentukan berdasarkan analisis biaya dan manfaat,” imbuh dia.

Menurut dia, Indonesia dapat mengalihkan tujuan impor minyak yang berasal dari wilayah konflik pada sejumlah wilayah dengan spare capacity dan cadangan minyak yang melebihi kebutuhan konsumsi minyak di wilayah tersebut.

Wilayah yang tercatat memiliki spare capacity dan cadangan minyak yang melebihi konsumsinya yang dapat menjadi alternatif tujuan impor Indonesia diantaranya adalah Amerika Utara, Amerika Tengah dan Selatan, Commonwealth of Independent States (CIS), dan Afrika.

Berita Terkait

Strategi Pertamina Hadapi Situasi Global
PLN Pastikan Ketahanan Pasokan Energi Primer, Listrik Ramadan dan Lebaran
Jaga Daya Beli, Tarif Listrik Juni-Juli Dipastikan Tidak Naik
PLN EPI Perkuat Koordinasi Pengadaan Batubara untuk Keandalan Pasokan Listrik
Sepakati Investasi USD20 Miliar, Bahlil Percepat Proyek Masela
Indonesia – Jepang Teken Kerjasama Mineral Kritis & Nuklir
Pemerintah Pastikan BBM dan LPG Aman Selama Lebaran 2026
Efek Domino Perang Iran-AS: Potensi Defisit APBN Membengkak hingga Rp204 Triliun

Berita Terkait

Rabu, 18 Maret 2026 - 12:00 WIB

PLN Pastikan Ketahanan Pasokan Energi Primer, Listrik Ramadan dan Lebaran

Selasa, 17 Maret 2026 - 17:02 WIB

Jaga Daya Beli, Tarif Listrik Juni-Juli Dipastikan Tidak Naik

Selasa, 17 Maret 2026 - 08:57 WIB

PLN EPI Perkuat Koordinasi Pengadaan Batubara untuk Keandalan Pasokan Listrik

Senin, 16 Maret 2026 - 08:43 WIB

Sepakati Investasi USD20 Miliar, Bahlil Percepat Proyek Masela

Minggu, 15 Maret 2026 - 19:29 WIB

Indonesia – Jepang Teken Kerjasama Mineral Kritis & Nuklir

Berita Terbaru