ASMINDO Perkuat Kemitraan dengan AHEC, Targetkan Lonjakan Ekspor Furnitur ke AS

Rabu, 25 Februari 2026 - 14:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jaktara – Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kemitraan dagang berbasis keberlanjutan dengan eksportir kayu keras Amerika Serikat yang tergabung dalam American Hardwood Export Council (AHEC), sebagai tindak lanjut penandatanganan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat pada 18 Februari 2026.

Komitmen ini tetap dijalankan meskipun Mahkamah Agung Amerika Serikat kemudian membatalkan kebijakan tarif resiprokal, karena kerja sama tersebut dinilai memiliki nilai strategis jangka panjang bagi penguatan rantai pasok global industri furnitur dan kerajinan berbasis kayu kedua negara.

Ketua Umum ASMINDO, Dedy Rochimat, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia yang telah berhasil merampungkan perjanjian ART dengan Amerika Serikat. Menurutnya, kesepakatan tersebut merupakan langkah penting dalam membuka akses perdagangan yang lebih kompetitif bagi produk furnitur nasional di pasar Amerika Serikat serta memperkuat hubungan dagang kedua negara.

ADVERTISEMENT

ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dedy menegaskan bahwa kemitraan dengan anggota AHEC berorientasi pada peningkatan daya saing dan volume ekspor produk furnitur dan kerajinan Indonesia di pasar global, khususnya Amerika Serikat, tanpa menggeser peran kayu domestik sebagai bahan baku utama industri nasional.

Menurutnya, pemanfaatan American hardwood diposisikan sebagai alternatif bahan baku berkualitas yang mampu memperkaya variasi material, meningkatkan kualitas produk, serta memenuhi preferensi desain dan standar pasar internasional bernilai tinggi.

Dedy berkeyakinan bahwa bahan baku ini akan dapat dimanfaatkan oleh IKM dan Industri nasional kita untuk meningkatkan daya saing mereka.

“Kolaborasi ini berbasis prinsip keberlanjutan dan kepatuhan legal, serta bertujuan memperkuat rantai nilai Indonesia–Amerika, bukan menggantikan kayu domestik. Yang diimpor adalah bahan baku, sementara nilai tambah manufaktur, desain, dan ekspor tetap dilakukan di Indonesia,” ujar Dedy dalam pernyataannya Rabu (25/2/2026).

Proyeksikan Kebutuhan American Hardwood Capai USD100 Juta

Lebih lanjut, Dedy menjelaskan bahwa selama ini belanja industri furnitur Indonesia terhadap American hardwood diperkirakan mencapai sekitar USD30 juta per tahun.

Dengan adanya ART yang diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor mebel Indonesia ke pasar Amerika Serikat melalui akses perdagangan yang lebih kompetitif, kebutuhan bahan baku hardwood Amerika juga diproyeksikan meningkat secara signifikan hingga sekitar USD100 juta dalam beberapa tahun ke depan.

Peningkatan ini dinilai sebagai konsekuensi logis dari pertumbuhan produksi furnitur ekspor Indonesia yang menggunakan kombinasi kayu lokal dan kayu keras impor premium untuk segmen pasar menengah-atas dan premium.

“Dengan demikian tercipta hubungan dagang yang saling menguntungkan atau win-win solution antara Indonesia dan Amerika Serikat. Ekspor furnitur Indonesia meningkat, kapasitas manufaktur nasional menguat, dan pada saat yang sama permintaan terhadap kayu keras Amerika juga tumbuh,” jelasnya.

Melalui kemitraan ini, kedua pihak menjajaki penggunaan kayu keras Amerika pada berbagai kategori produk seperti solid wood furniture, komponen interior, serta kerajinan kayu berorientasi ekspor ke pasar Amerika Serikat, Eropa, dan lokal pada segmen premium global. Kerja sama ini juga mencakup pertukaran informasi spesies dan standar kualitas hardwood Amerika, dialog teknis terkait pengolahan dan keberlanjutan, serta fasilitasi jejaring bisnis antara eksportir Amerika dan produsen furnitur anggota ASMINDO di Indonesia.

Tahap awal implementasi kemitraan difokuskan pada penjajakan pasar, peningkatan pemahaman teknis material, dan pembentukan fondasi rantai pasok jangka panjang yang transparan, legal, dan berkelanjutan.

ASMINDO memandang langkah ini sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia tidak hanya sebagai basis produksi furnitur dunia, tetapi juga sebagai pusat manufaktur furnitur bernilai tambah tinggi yang terintegrasi dalam jaringan pasok global.

“Indonesia tidak hanya ingin menjadi basis produksi, tetapi menjadi pusat manufaktur bernilai tambah tinggi yang berbasis keberlanjutan dan kemitraan global,” tutup Dedy Rochimat.

Berita Terkait

Literasi Keuangan Masyarakat RI Naik, Tapi Kesenjangan Masih Lebar
Jumlah Penduduk Miskin Berkurang 400 Ribu Orang pada Mei 2026
Tingkat Pengangguran di Mei Turun Jadi 7,22 Juta Orang
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Capai 5,29 Persen
Miris, 0,12% Rekening Kaya Kuasai 70% Total Simpanan Bank di Indonesia
Pemerintah Bongkar Dugaan Mafia Beras, Kerugian Negara Tembus Rp71 T
KKP Dukung Pemanfaatan Ruang Laut untuk Lindungi Mangrove & Populasi Kerang Dara di Belitung
Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur Bank Indonesia

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 07:58 WIB

Literasi Keuangan Masyarakat RI Naik, Tapi Kesenjangan Masih Lebar

Rabu, 5 Agustus 2026 - 12:46 WIB

Jumlah Penduduk Miskin Berkurang 400 Ribu Orang pada Mei 2026

Rabu, 5 Agustus 2026 - 12:38 WIB

Tingkat Pengangguran di Mei Turun Jadi 7,22 Juta Orang

Rabu, 5 Agustus 2026 - 12:00 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Capai 5,29 Persen

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:05 WIB

Miris, 0,12% Rekening Kaya Kuasai 70% Total Simpanan Bank di Indonesia

Berita Terbaru

Presiden Prabowo Subianto menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang digelar di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Pondok Modern Darussalam Gontor Putra Kampus Pusat, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu, 19 September 2026. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

Nasional

Prabowo Subianto Menekankan Pentingnya Swasembada

Minggu, 20 Sep 2026 - 11:24 WIB