Wacana Prabowo Dua Periode Berpotensi Menggeser Fokus Kerja Kabinet

Senin, 9 Februari 2026 - 12:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jaktara -Wacana Presiden Prabowo Subianto untuk maju sebagai presiden dua periode dinilai berpotensi menimbulkan konsekuensi politik di internal pemerintahan.

Dukungan terbuka dari Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Amanat Nasional, yang tidak direspons dengan penyangkalan oleh Partai Gerindra, dipandang sebagai sinyal awal dimulainya fase baru dinamika kekuasaan.

Pengamat Politik, Arifki Chaniago, menilai secara konstitusional wacana dua periode tidak bermasalah. Namun yang menjadi perhatian adalah waktu kemunculannya.

Dukungan politik yang muncul terlalu dini dinilai berpotensi memengaruhi cara elite membaca arah kekuasaan, termasuk di lingkungan kabinet.

“Sinyal politik seperti ini biasanya langsung direspons oleh aktor-aktor di dalam pemerintahan. Bukan dalam bentuk pernyataan terbuka, tetapi melalui penyesuaian langkah,” ujar Arifki, Senin (9/2/2026).

Menurut Arifki, sikap Gerindra yang tidak menutup ruang pembahasan dua periode dapat dibaca sebagai penegasan bahwa arah politik jangka menengah mulai terbuka.

Dalam kondisi tersebut, fokus politik dinilai tidak lagi sepenuhnya berada pada konsolidasi program, melainkan mulai bergeser ke kalkulasi posisi dan peran ke depan.

“Dukungan PKB dan PAN juga dinilai tidak dimaksudkan untuk mengubah peta kepemimpinan nasional pada 2029,” ucap dia.

Sebaliknya, dukungan tersebut mempertegas posisi Prabowo sebagai figur sentral, sekaligus memindahkan dinamika politik ke ruang internal koalisi. Tidak disebutkannya nama Gibran Rakabuming Raka dalam pernyataan dukungan dipandang sebagai indikasi bahwa pembahasan politik belum memasuki tahap final.

Dalam konteks ini, Arifki menilai kabinet berpotensi memasuki fase yang lebih politis. Ketika sinyal kekuasaan mulai terbaca, aktivitas kementerian dan kebijakan publik cenderung mendapat tafsir politik yang lebih kuat. Program pemerintah tetap berjalan, tetapi setiap langkah lebih mudah dikaitkan dengan kepentingan jangka menengah.

“Risikonya bukan pada berhentinya kerja pemerintahan, melainkan pada terbelahnya fokus. Program bisa tetap dijalankan, tetapi orientasinya tidak lagi sepenuhnya teknokratis,” kata Arifki.

Arifki menekankan bahwa dinamika semacam ini lazim dalam sistem presidensial multipartai. Namun, yang membedakan adalah kecepatan munculnya wacana elektoral. Ketika pembicaraan politik Pilpres hadir terlalu awal, ruang netral kabinet dinilai semakin menyempit.

Situasi tersebut juga dinilai dapat memengaruhi sikap partai-partai lain yang belum menyatakan posisi. Ketidakpastian arah politik membuka ruang manuver, sekaligus meningkatkan intensitas komunikasi politik di luar jalur formal pemerintahan.

“Dampak nyata dari wacana ini sangat bergantung pada bagaimana elite mengelola sinyal tersebut. Selama tidak diikuti langkah-langkah formal dan keputusan politik yang mengikat, dinamika ini masih berada pada tahap awal, ” kata Arifki.

Namun, Arifki menilai satu hal penting: semakin lama wacana dua periode dibiarkan berkembang tanpa penegasan arah, semakin besar kemungkinan perhatian elite tersedot pada politik elektoral, sementara agenda kebijakan berisiko berjalan dalam bayang-bayang kontestasi.

“Dalam politik, sinyal sering kali lebih berpengaruh daripada keputusan resmi,” ujar Arifki.

Berita Terkait

PSI Dukung Jokowi Kembalikan UU KPK ke Versi Lama
Tak Ada Pengecualian, Pramono Bakal Tertibkan Spanduk Parpol di Flyover
Jokowi: Saya Akan Bekerja Keras Mati-matian untuk PSI
Kaesang Pangarep: Saya Tidak Butuh Laporan ABS, Isinya Tipu-Tipu!
Kaesang Ancam Copot Pengurus PSI yang Mager Kerja
ICW Kritik Penunjukan Thomas Djiwandono dan Adies Kadir
Reshuffle Kabinet: Ketika Kursi Kosong Membuka Banyak Tafsir

Berita Terkait

Kamis, 19 Februari 2026 - 18:01 WIB

PSI Dukung Jokowi Kembalikan UU KPK ke Versi Lama

Senin, 9 Februari 2026 - 12:17 WIB

Wacana Prabowo Dua Periode Berpotensi Menggeser Fokus Kerja Kabinet

Kamis, 5 Februari 2026 - 09:48 WIB

Tak Ada Pengecualian, Pramono Bakal Tertibkan Spanduk Parpol di Flyover

Sabtu, 31 Januari 2026 - 12:14 WIB

Jokowi: Saya Akan Bekerja Keras Mati-matian untuk PSI

Kamis, 29 Januari 2026 - 20:00 WIB

Kaesang Pangarep: Saya Tidak Butuh Laporan ABS, Isinya Tipu-Tipu!

Berita Terbaru

Bank Perekonomian Rakyat Koperindo, yang berlokasi di Wisma Techking 2, Jl. A.M Sangaji No.24 3, RT.3/RW.4 10130 Petojo Utara, Jakarta Pusat. Izin BPR Koperindo dicabut oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhitung sejak tanggal 9 Maret 2026. (Dok: LPS)

Ekonomi & Bisnis

LPS Bayarkan Rp14,19 Miliar Dana Nasabah PT BPR Koperindo

Sabtu, 14 Mar 2026 - 12:23 WIB

Ekonomi & Bisnis

Wuling Siapkan Posko Mudik hingga Bengkel 24 Jam Selama Lebaran 2026

Sabtu, 14 Mar 2026 - 09:59 WIB

Presiden KSPI sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal

Ekonomi & Bisnis

Lebih Dari 25 Ribu Buruh Tidak Mendapatkan THR

Sabtu, 14 Mar 2026 - 09:18 WIB