Celios Minta Pemerintah Indonesia Keluar dari Board of Peace

Senin, 23 Februari 2026 - 20:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira

Jaktara – Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, meminta Pemerintah RI keluar dari organisasi buatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Board of Peace.

Permintaan ini disampaikan menyusul tekanan kebijakan dagang/tarif resiprokal, yang juga digagas Trump, terhadap Indonesia. Bhima menilai posisi tawar Indonesia melemah akibat perjanjian dagang tersebut.

“Tekanan tarif resiprokal Trump membuat Indonesia memiliki daya tawar rendah sehingga bergabung dalam Board of Peace menjadi tidak relevan,” ucapnya dalam keterangan yang diterima, Senin (23/2/2026).

ADVERTISEMENT

ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bhima menyebutkan, perjanjian dagang gagasan Trump tersebut melanggar prinsip kepentingan nasional Indonesia. Pasalnya, kebijakan itu dinilai mencederai arah politik luar negeri.

Menurut Bhima, dengan kebijakan tarif resiprokal serta Board of Peace, Indonesia tertekan mengikuti kepentingan geopolitik AS. Terlebih, posisi bebas aktif RI dalam hubungan bilateral dinilai akan terancam akibat kebijalan tarif maupun Board of Peace.

“Kami juga meminta agar Indonesia melepaskan keanggotaan dalam Board of Peace dalam tempo yang sesingkat-singkatnya demi kepentingan nasional Indonesia,” tuturnya.

Bhima turut menilai, perjanjian dagang juga membatasi kerja sama dengan negara lain. Sebab, pasal jebakan dalam perjanjian yang membatasi kebebasan suatu negara (klausul poison pill) dinilai merugikan posisi diplomasi Indonesia.

CELIOS, kata Bhima, meminta Presiden Prabowo Subianto segera mengambil langkah untuk mengevaluasi kebijakan luar negeri yang dinilai mendesak untuk dilakukan.

“Terdapat poison pill dimana Indonesia dibatasi melakukan kerjasama dengan negara lainnya yang tidak sejalan dengan kepentingan AS,” sebutnya.

“Pemerintah AS seolah menjadikan Indonesia blok eksklusif perdagangan dengan memaksa Indonesia terlibat dalam memberikan sanksi terhadap negara yang dinilai merugikan kepentingan AS,” lanjut Bhima.

Berita Terkait

Prabowo Subianto Menekankan Pentingnya Swasembada
Prabowo: Biaya Pendidikan Negeri SD hingga Universitas Harus Gratis
Kronologi Lima Jurnalis Hilang Kontak Saat Meliput Erupsi Anak Krakatau
KSOP Banten Bersama Tim SAR Gabungan Lakukan Pencarian 5 Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda
Menhub Dudy Perpanjang Penutupan 8 Bandara Akibat Abu Vulkanik
Kemkomdigi Larang Operator Hanguskan Sisa Kuota Internet
Bukan Cuma Tren, Ini Cara Gen-Z Selamatkan Indonesia dari Bahaya Sisa Pangan!
MagangHub Batch 2 Kemnaker Dibuka Besok, Ini Tahapan Seleksinya

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 11:24 WIB

Prabowo Subianto Menekankan Pentingnya Swasembada

Minggu, 20 September 2026 - 11:12 WIB

Prabowo: Biaya Pendidikan Negeri SD hingga Universitas Harus Gratis

Kamis, 10 September 2026 - 09:14 WIB

Kronologi Lima Jurnalis Hilang Kontak Saat Meliput Erupsi Anak Krakatau

Kamis, 10 September 2026 - 08:54 WIB

KSOP Banten Bersama Tim SAR Gabungan Lakukan Pencarian 5 Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Senin, 7 September 2026 - 08:06 WIB

Menhub Dudy Perpanjang Penutupan 8 Bandara Akibat Abu Vulkanik

Berita Terbaru

Presiden Prabowo Subianto menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang digelar di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Pondok Modern Darussalam Gontor Putra Kampus Pusat, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu, 19 September 2026. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

Nasional

Prabowo Subianto Menekankan Pentingnya Swasembada

Minggu, 20 Sep 2026 - 11:24 WIB