Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 2,23 Miliar Dolar AS per Februari

Rabu, 1 April 2026 - 11:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus.

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus.

Jaktara – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan secara kumulatif periode Januari hingga Februari 2026 mencapai US$2,23 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus tersebut ditopang oleh kinerja positif perdagangan komoditas nonmigas, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit.

“Hingga bulan Februari 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$2,23 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-Februari 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas US$5,42 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$3,19 miliar,” ungkap Ateng pada konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4).

Menurutnya, nilai ekspor kumulatif periode Januari-Februari 2026 naik 2,19 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang mencatat nilai ekspor sebesar US$37,06 miliar atau naik 6,69 persen.

Tiga besar negara tujuan ekspor Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini sekitar 43,85 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Februari 2026.

Tiongkok masih menjadi pasar ekspor utama komoditas nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai US$10,46 miliar (24,69 persen), disusul Amerika Serikat sebesar US$5,00 miliar (11,81 persen), dan India sebesar US$3,11 miliar (7,35 persen).

Ekspor nonmigas ke Tiongkok pada periode Januari-Februari 2026 didominasi oleh komoditas besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Sementara ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, pakaian dan aksesorisnya (rajutan).

Sementara itu, nilai impor Indonesia secara kumulatif hingga Februari 2026 mencapai US$42,09 miliar, atau naik 14,44 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor US$36,93 miliar, naik 17,49 persen. Sedangkan impor migas mengalami penurunan 3,50 persen menjadi US$5,16 miliar.

Dari sisi penggunaan, peningkatan impor periode Januari-Februari 2026 secara kumulatif terjadi baik pada barang modal, bahan baku/penolong, maupun barang konsumsi. Nilai impor barang modal mencapai US$9,10 miliar atau naik 34,44 persen. Sedangkan nilai impor bahan baku/penolong mencapai US$29,40 miliar atau naik 9,27 persen.

Sepanjang periode Januari-Februari 2026, Tiongkok menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai US$15,68 miliar (42,46 persen), diikuti Australia dengan nilai US$2,07 miliar (5,60 persen), dan Singapura sebesar US$2,00 miliar (5,41 persen).

Selanjutnya, surplus perdagangan nonmigas hingga Februari 2026 sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewan/nabati (US$6,49 miliar), bahan bakar mineral (US$4,01 miliar), besi dan baja (US$2,70 miliar), nikel dan barang daripadanya (US$1,97 miliar), serta alas kaki (US$0,99 miliar).

Berita Terkait

Pemerintah Resmi Gelontorkan Stimulus Ekonomi Rp26,34 Triliun untuk Semester II-2026
Suku Bunga Pinjaman PNM Mekar Turun Jadi 8 Persen
Seskab Teddy Ungkap Arahan Prabowo soal Transformasi BUMN dan Optimalisasi Aset Negara
Investor Dapat Perlindungan Hukum Jika Beli Patriot Bond & Merah Putih Bind
Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3 Dibuka, Targetkan 20 Ribu Peserta
Purbaya Kantongi Dukungan Penuh dari China Terkait Penerbitan Panda Bond
Berganti Kepemimpinan, Ini Daftar Transformasi PELNI Ddi Bawah Tri Andayani
Dukung Ekonomi Biru, KKP Ajak Dunia Usaha Perkuat Investasi Berkelanjutan di Ruang Laut

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 21:07 WIB

Pemerintah Resmi Gelontorkan Stimulus Ekonomi Rp26,34 Triliun untuk Semester II-2026

Senin, 22 Juni 2026 - 20:41 WIB

Suku Bunga Pinjaman PNM Mekar Turun Jadi 8 Persen

Senin, 22 Juni 2026 - 13:47 WIB

Seskab Teddy Ungkap Arahan Prabowo soal Transformasi BUMN dan Optimalisasi Aset Negara

Senin, 22 Juni 2026 - 13:39 WIB

Investor Dapat Perlindungan Hukum Jika Beli Patriot Bond & Merah Putih Bind

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:14 WIB

Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3 Dibuka, Targetkan 20 Ribu Peserta

Berita Terbaru

Ekonomi & Bisnis

Suku Bunga Pinjaman PNM Mekar Turun Jadi 8 Persen

Senin, 22 Jun 2026 - 20:41 WIB