Analis Sebut Perang Darat Iran-AS Bisa Jadi Penentu Nasib Harga Emas Dunia

Senin, 23 Maret 2026 - 08:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi emas.

Ilustrasi emas.

Jaktara – Harga emas dunia mengalami tekanan signifikan pada penutupan perdagangan Sabtu di level US$4.497 per troy ons. Penurunan ini turut menyeret harga logam mulia di pasar domestik yang ditutup melemah ke level Rp2.893.000 per gram.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, secara teknikal pergerakan emas pada awal pekan depan diperkirakan masih akan dibayangi potensi koreksi lanjutan. Level support terdekat berada di US$4.423 per troy ons dan dapat mendorong harga logam mulia domestik turun ke sekitar Rp2.840.000 per gram.

Jika tekanan berlanjut, support berikutnya diproyeksikan berada di kisaran US$4.319 per troy ons, dengan implikasi penurunan harga logam mulia hingga Rp2.800.000 per gram. Skenario ini berpotensi terjadi apabila sentimen global tetap negatif dan nilai tukar rupiah mengalami penguatan terbatas.

“Itu seandainya dalam perdagangan di Minggu depan ini mengalami koreksi terhadap harga mas dunia kemudian rupiahnya menguat berbatas,” ujar Ibrahim dalam pernyataannya kepada wartawan, Senin (23/3/2026).

Lebih lanjut, Ibrahim melihat bahwa peluang penguatan ke depan masih terbuka. Jika harga emas berhasil rebound, level resistance pertama berada di US$4.559,86 per troy ons. Pada skenario ini, harga logam mulia domestik diperkirakan dapat naik ke kisaran Rp2.920.000 per gram dalam waktu satu pekan.

Sementara itu, resistance lanjutan berada di level US$4.681,50 per troy ons, yang berpotensi mendorong harga emas domestik mendekati Rp2.980.000 per gram.

“Saya masih optimis bahwa harga emas dunia logam mulia ini akan kembali menguat tinggal menunggu momentum saja,” ungkap Ibrahim.

Ibrahim menambahkan saat ini pelaku pasar global cenderung mengambil sikap wait and see terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya potensi pecahnya perang darat yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Kka skenario perang darat benar-benar terjadi dan Iran mengalami kekalahan, maka harga emas berpotensi melemah. Sebaliknya, jika Iran mampu unggul dalam konflik tersebut, pasar diperkirakan akan merespons dengan lonjakan harga emas yang signifikan.

“Ini yang sebenarnya sedang ditunggu oleh pasar banyak pengamat yang mengatakan bahwa jalan satu-satunya untuk mengangkat harga emas dunia ya itu adalah perang darat,” kata dia.

Berita Terkait

Pemerintah Resmi Gelontorkan Stimulus Ekonomi Rp26,34 Triliun untuk Semester II-2026
Suku Bunga Pinjaman PNM Mekar Turun Jadi 8 Persen
Seskab Teddy Ungkap Arahan Prabowo soal Transformasi BUMN dan Optimalisasi Aset Negara
Investor Dapat Perlindungan Hukum Jika Beli Patriot Bond & Merah Putih Bind
Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3 Dibuka, Targetkan 20 Ribu Peserta
Purbaya Kantongi Dukungan Penuh dari China Terkait Penerbitan Panda Bond
Berganti Kepemimpinan, Ini Daftar Transformasi PELNI Ddi Bawah Tri Andayani
Dukung Ekonomi Biru, KKP Ajak Dunia Usaha Perkuat Investasi Berkelanjutan di Ruang Laut
Tag :

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 21:07 WIB

Pemerintah Resmi Gelontorkan Stimulus Ekonomi Rp26,34 Triliun untuk Semester II-2026

Senin, 22 Juni 2026 - 20:41 WIB

Suku Bunga Pinjaman PNM Mekar Turun Jadi 8 Persen

Senin, 22 Juni 2026 - 13:47 WIB

Seskab Teddy Ungkap Arahan Prabowo soal Transformasi BUMN dan Optimalisasi Aset Negara

Senin, 22 Juni 2026 - 13:39 WIB

Investor Dapat Perlindungan Hukum Jika Beli Patriot Bond & Merah Putih Bind

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:14 WIB

Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3 Dibuka, Targetkan 20 Ribu Peserta

Berita Terbaru

Ekonomi & Bisnis

Suku Bunga Pinjaman PNM Mekar Turun Jadi 8 Persen

Senin, 22 Jun 2026 - 20:41 WIB