Survei Group-IB: 2026 Jadi Titik Balik Ancaman Siber di Asia-Pasifik

Jumat, 27 Februari 2026 - 09:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jaktara – Group-IB, pengembang teknologi keamanan siber terkemuka untuk investigasi, pencegahan, dan penanggulangan kejahatan digital, telah merilis Laporan High-Tech Crime Trends Report 2026.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa serangan terhadap rantai pasok telah berevolusi menjadi ekosistem terintegrasi yang mengeksploitasi kepercayaan, akses, dan data yang telah dikompromikan.

Laporan ini menunjukkan bahwa ketika organisasi semakin saling terhubung secara digital, peretas kini lebih sering membidik vendor dan penyedia layanan di tingkat awal rantai pasok guna memperluas dampak serangan, mempercepat eksekusi, dan menghindari deteksi.

Alih-alih menyerang perusahaan secara langsung, pelaku mengeksploitasi hubungan kerja yang sudah dipercaya dalam ekosistem rantai pasok digital untuk menembus sistem keamanan konvensional, sehingga dapat memperoleh akses ke seluruh jaringan pelanggan.

“Ancaman siber saat ini bukan lagi insiden yang berdiri sendiri,” ujar CEO Group-IB, Dmitry Volkov.

Ancaman siber ini saling terhubung dalam ekosistem serangan rantai pasok. Satu celah saja bisa berdampak pada ribuan pihak lain. Phishing, ransomware, kebocoran data, hingga penyalahgunaan akses internal merupakan tahapan dalam satu kampanye terkoordinasi yang dibangun dengan mengeksploitasi kepercayaan dan memperluas jejak ancaman siber.

Di kawasan Asia-Pasifik, Group-IB mengungkap 263 kasus akses perusahaan yang diperjualbelikan di dark web sepanjang 2025 untuk memfasilitasi serangan tersebut.

Laporan menegaskan bahwa lonjakan kebocoran data memperparah risiko siber. Kredensial yang dicuri, source code, API key, hingga komunikasi internal memungkinkan penyerang memahami proses bisnis dan relasi antar perusahaan.

Ketika digabungkan dengan akses yang diperdagangkan oleh broker, data ini memungkinkan penyerang melancarkan penyusupan yang lebih terarah, menyamar sebagai pihak terpercaya, serta menjalankan penipuan yang tampak seperti aktivitas normal.

Sepanjang 2025, pemanfaatan AI dalam berbagai alat serangan membuat siapa pun lebih mudah melancarkan aksi siber.

Pelaku dapat membuat phishing kit dengan cepat, melakukan penyamaran yang lebih realistis, serta mengeksploitasi perangkat lunak open-source, sistem autentikasi, dan peramban web secara lebih luas dan terukur.

“AI bukan penyebab munculnya serangan rantai pasok, tetapi membuat serangan tersebut lebih efisien, cepat, dan sulit terdeteksi,” ujar Volkov. “Kepercayaan berlebihan terhadap software dan layanan kini berubah menjadi risiko strategis bagi sebuah perusahaan.”

Melalui studi kasus yang mendalam dan pemetaan profil aktor ancaman, Laporan Tren Kejahatan Teknologi Tinggi 2026 menunjukkan bahwa 2025 menjadi tahun lonjakan signifikan ancaman rantai pasok.

Serangan berkembang dari penyusupan ekosistem open-source dan maraknya ekstensi peramban web berbahaya, hingga phishing berbasis AI, penyalahgunaan OAuth, serta terbentuknya ekosistem ransomware yang semakin terorganisir.

Laporan ini mencatat aktivitas konsisten dari kelompok seperti Lazarus, Scattered Spider, HAFNIUM, DragonForce, 888, dan kampanye yang terhubung dengan Shai-Hulud.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa baik kelompok kriminal maupun aktor yang berafiliasi dengan negara memanfaatkan platform dan integrasi terpercaya untuk menghasilkan dampak besar dengan upaya yang relatif efisien.

Berita Terkait

Hampir 30.000 Pekerja di Bandung dan Mojokerto Terancam PHK
YLKI Desak Prabowo Turun Tangan Atasi Persoalan Listrik
Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3 Dibuka, Targetkan 20 Ribu Peserta
Ada Demo di DPR, Jasa Marga Tutup Sementara Akses Keluar Tol Slipi Imbas 
BGN Hentikan Sementara Program Makan Bergizi Gratis Selama Periode Libur
Keterlibatan Serikat Pekerja Penting dalam Penyempurnaan Regulasi Ketenagakerjaan
Sudah Lebih dari Sebulan, Perpres Ojol Masih ‘Gaib’
Tingkatkan Standar Layanan, InJourney Airports Kembangkan 4 Bandara Tahun Ini

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 17:41 WIB

Hampir 30.000 Pekerja di Bandung dan Mojokerto Terancam PHK

Minggu, 21 Juni 2026 - 13:46 WIB

YLKI Desak Prabowo Turun Tangan Atasi Persoalan Listrik

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:14 WIB

Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3 Dibuka, Targetkan 20 Ribu Peserta

Jumat, 19 Juni 2026 - 21:18 WIB

Ada Demo di DPR, Jasa Marga Tutup Sementara Akses Keluar Tol Slipi Imbas 

Jumat, 19 Juni 2026 - 08:07 WIB

BGN Hentikan Sementara Program Makan Bergizi Gratis Selama Periode Libur

Berita Terbaru

Ekonomi & Bisnis

Suku Bunga Pinjaman PNM Mekar Turun Jadi 8 Persen

Senin, 22 Jun 2026 - 20:41 WIB