Neraca Perdagangan RI Surplus USD0,95 Milar di Januari 2026

Senin, 2 Maret 2026 - 16:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono. (Foto:Dok BPS)

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono. (Foto:Dok BPS)

Jaktara – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$0,95 miliar pada Januari 2026. Hal ini menandai surplus yang telah berlanjut selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus tersebut ditopang oleh kinerja positif perdagangan komoditas nonmigas, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit.

”Pada bulan Januari 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$0,95 miliar. Angka ini ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$3,22 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$2,27 miliar,” jelas Ateng pada konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Ia melanjutkan bahwa nilai ekspor pada Januari 2026 adalah US$22,16 miliar, mengalami kenaikan 3,39 persen dibandingkan Januari 2025. Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang tumbuh hingga 8,19 persen ( y-on-y ).

”Nilai ekspor industri pengolahan naik 8,19 persen pada Januari 2026 ( y-on-y) dengan andil peningkatan sebesar 6,54 persen,” jelas Ateng.

BPS mencatat tiga negara utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini mencapai 43,77 persen pada Januari 2026.

Tiongkok masih menjadi pasar utama dengan nilai mencapai US$5,27 miliar (24,80 persen), diikuti oleh Amerika Serikat sebesar US$2,51 miliar (11,82 persen) dan India sebesar US$1,52 miliar (7,15 persen).

Ekspor nonmigas ke Tiongkok pada Januari 2026 didominasi oleh besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Sementara ekspor ke Amerika Serikat sebagian besar merupakan mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorisnya (rajutan).

Dari sisi impor, nilai impor Indonesia pada Januari 2026 tercatat US$21,20 miliar, atau naik 18,21 persen dari Januari 2025 ( y-on-y).

Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor sebesar US$18,04 miliar, naik 16,71 persen dibandingkan Januari 2025. Impor sektor migas juga meningkat hingga 27,52 persen (y-on-y).

Kondisi ini menjadikan nilai impor sektor migas pada Januari 2026 tercatat sebesar US$3,17 miliar.

Dilihat dari sisi penggunaan, peningkatan impor pada Januari 2026 terjadi baik pada bahan baku/penolong, barang modal, serta barang konsumsi.

Nilai impor bahan baku/penolong sebagai pendorong utama kenaikan impor pada Januari 2026 tercatat US$14,88 miliar, naik 14,67 persen dibandingkan Januari 2025. Sementara impor barang modal tercatat sebesar US$4,49 miliar, atau naik 35,23 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.

BPS melaporkan tiga negara utama asal impor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah Tiongkok, Australia, dan Jepang. Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 54,92 persen.

Tiongkok masih menjadi negara utama dengan nilai impor US$7,89 miliar (43,75 persen), diikuti oleh Australia sebesar US$1,07 miliar (5,92 persen) dan Jepang sebesar US$0,95 miliar (5,25 persen).

Impor dari Tiongkok utamanya berupa mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya, mesin/peralatan mekanis dan bagiannya, serta plastik dan barang dari plastik.

Selanjutnya, surplus perdagangan nonmigas pada Januari 2026 sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewani/nabati (US$3,10 miliar), bahan bakar mineral (US$2,16 miliar), besi dan baja (US$1,51 miliar), nikel dan barang daripadanya (US$1,03 miliar), serta alas kaki (US$0,49 miliar).

Berita Terkait

LPS Bayarkan Rp14,19 Miliar Dana Nasabah PT BPR Koperindo
Wuling Siapkan Posko Mudik hingga Bengkel 24 Jam Selama Lebaran 2026
Baru 10 Hari Dibuka, Posko THR Kemnaker Sudah Terima 1.134 Konsultasi Pekerja
Lebih Dari 25 Ribu Buruh Tidak Mendapatkan THR
Mobil Listrik Polytron Salip Merek Global di Pasar Indonesia
Garuda Indonesia Group Siapkan 1,3 Juta Kursi Penerbangan Selama Lebaran
Selat Hormuz Memanas, Harga Bitcoin Tergelincir Lagi di Bawah US$70.000
Efek Domino Perang Iran-AS: Potensi Defisit APBN Membengkak hingga Rp204 Triliun

Berita Terkait

Sabtu, 14 Maret 2026 - 12:23 WIB

LPS Bayarkan Rp14,19 Miliar Dana Nasabah PT BPR Koperindo

Sabtu, 14 Maret 2026 - 09:59 WIB

Wuling Siapkan Posko Mudik hingga Bengkel 24 Jam Selama Lebaran 2026

Sabtu, 14 Maret 2026 - 09:29 WIB

Baru 10 Hari Dibuka, Posko THR Kemnaker Sudah Terima 1.134 Konsultasi Pekerja

Sabtu, 14 Maret 2026 - 09:18 WIB

Lebih Dari 25 Ribu Buruh Tidak Mendapatkan THR

Jumat, 13 Maret 2026 - 10:22 WIB

Mobil Listrik Polytron Salip Merek Global di Pasar Indonesia

Berita Terbaru

Bank Perekonomian Rakyat Koperindo, yang berlokasi di Wisma Techking 2, Jl. A.M Sangaji No.24 3, RT.3/RW.4 10130 Petojo Utara, Jakarta Pusat. Izin BPR Koperindo dicabut oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhitung sejak tanggal 9 Maret 2026. (Dok: LPS)

Ekonomi & Bisnis

LPS Bayarkan Rp14,19 Miliar Dana Nasabah PT BPR Koperindo

Sabtu, 14 Mar 2026 - 12:23 WIB

Ekonomi & Bisnis

Wuling Siapkan Posko Mudik hingga Bengkel 24 Jam Selama Lebaran 2026

Sabtu, 14 Mar 2026 - 09:59 WIB

Presiden KSPI sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal

Ekonomi & Bisnis

Lebih Dari 25 Ribu Buruh Tidak Mendapatkan THR

Sabtu, 14 Mar 2026 - 09:18 WIB