Jaktara – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memastikan pemerintah tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hingga akhir tahun.
Selama harga minyak rata-rata tidak melampaui US$97 per barel, kata Airlangga, harga BBM bersubsidi dapat dipertahankan hingga Desember tahun ini.
“Selama harga minyak tidak lebih dari USD97 secara rata-rata, maka harga BBM ini bisa kita pertahankan sampai bulan Desember tahun ini,” kata Airlangga dalam Konferensi Pers terkait Kebijakan Transportasi dan BBM, di Kantornya, Jakarta, Senin (6/4/2026).
Airlangga menyebut dalam konferensi pers sebelumnya, pemerintah dan Pertamina ini sudah memutuskan untuk tidak menaikan harga BBM bersubsidi.
“Jadi, sekali lagi BBM bersubsidi itu adalah Pertalite dan Solar,” kata Airlangga.
Menurutnya, keputusan ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memberikan kepastian bagi dunia usaha di tengah dinamika ekonomi global dan volatilitas harga energi.
“Jadi ini guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli,” kata dia.
Dalam kesempatan sama, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa juga menjamin bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik sampai akhir tahun. Sekalipun harga minyak tinggi, pemerintah masih punya cukup uang sebagai bantalan dari kenaikan.
“Selama suplainya ada, kita masih punya bantalan uang sebesar Rp420 triliun dalam bentuk Saldo Anggaran Lebih (SAL). Kalau kepepet, itu masih bisa dipakai,” kata Purbaya.
Namun demikian, kata Purbaya untuk menuju ke arah sana kemungkinan besar sangat kecil. Ia menilai kenaikan harga minyak mentah dunia tidak akan bertahan lama di angka USD100 per barel.
“Untuk waktu yang berkepanjangan cukup kecil, apalagi jika kita melihat dinamika politik di Amerika Serikat. Jadi, masyarakat tidak usah khawatir dan berspekulasi bahwa negara kehabisan uang,” jelas dia.









