Menunda Pensiun demi Anak? Ini Alasan 43% Pekerja RI Belum Siap Berhenti

Minggu, 15 Februari 2026 - 08:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Generasi sandwich. (Foto ilustrasi/AI)

Generasi sandwich. (Foto ilustrasi/AI)

Jaktara – Tekanan finansial untuk menopang orang tua sekaligus anak kini menjadi realitas bagi 90 persen pekerja di Indonesia. Kondisi yang dikenal sebagai “sandwich generation” ini berdampak langsung pada kesiapan pensiun: 40 persen responden mengaku menurunkan ekspektasi gaya hidup saat pensiun, sementara 23 persen menunda atau memperkirakan harus terus bekerja setelah mencapai usia pensiun.

Temuan tersebut terungkap dalam survei Sun Life bertajuk “Membayangkan Kembali Pensiun: Kesenjangan Pensiun di Asia / Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide.” Studi ini juga mencatat bahwa 77 persen responden Indonesia memperkirakan akan tetap bekerja setelah usia pensiun.

Tekanan ini muncul di tengah perubahan demografi. Data ESCAP (2023) menunjukkan jumlah penduduk Indonesia usia 60 tahun ke atas mencapai 30,9 juta orang (11,1 persen populasi) pada 2023 dan diproyeksikan meningkat menjadi 64,9 juta orang (20,5 persen) pada 2050.

Peningkatan usia harapan hidup memperpanjang masa produktif sekaligus memperbesar kebutuhan perencanaan keuangan jangka panjang.

Sebanyak 71 persen responden menyatakan mereka membutuhkan penghasilan tambahan untuk menopang biaya hidup dan menjaga keamanan finansial jangka panjang.

Bagi sebagian responden, bekerja lebih lama mencerminkan pilihan pribadi. Namun bagi sebagian lain, hal tersebut merupakan konsekuensi tekanan ekonomi.

Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, mengatakan ada dua realitas yang berbeda. Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama bisa menjadi pilihan yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan.

Sementara bagi yang lain, bekerja lebih lama mencerminkan tekanan keuangan yang dihadapi. Merencanakan pensiun lebih awal dan secara menyeluruh adalah penentu realitas mana yang akan dijalani.

Riset ini mengelompokkan responden menjadi dua kategori: Gold Star Planners yang telah mempersiapkan pensiun secara matang, dan Stalled Starters yang menunda perencanaan.

Sebanyak 43 persen responden yang menunda pensiun menyebut kebutuhan membiayai pendidikan dan kebutuhan hidup anak sebagai alasan utama.

Survei juga mencatat perubahan perilaku dalam mencari informasi finansial. Penggunaan generative AI untuk mendukung pengambilan keputusan finansial meningkat dari 13 persen menjadi 30 persen dibanding survei sebelumnya.

Sebaliknya, proporsi responden yang berkonsultasi dengan bank turun dari 40 persen menjadi 31 persen, dan yang berkonsultasi dengan penasihat keuangan independen turun dari 44 persen menjadi 31 persen.

Menurut Albertus, teknologi dapat menjadi sumber informasi awal, tapi keputusan jangka panjang tetap memerlukan pertimbangan menyeluruh.

“Semakin banyak orang Indonesia yang umurnya lebih panjang. Namun, terlalu banyak yang masih tidak yakin apakah mereka bisa pensiun dengan nyaman,” tambah Albertus.

Dari sisi psikologis, keamanan finansial berkorelasi dengan optimisme terhadap pensiun. Di antara responden yang optimistis, 60 persen menyebut rasa aman secara finansial sebagai faktor utama.

Sebaliknya, kekhawatiran terbesar bagi mereka yang gelisah menghadapi pensiun adalah ketidakmampuan memberi dukungan finansial kepada keluarga (44 persen).

Hingga 24 persen responden mengaku tidak memiliki rencana pensiun, dan 34 persen baru menyusun rencana dalam dua tahun sebelum berhenti bekerja penuh waktu. Hanya 38 persen yang merasa sangat percaya diri terhadap rencana pensiun mereka.

Berita Terkait

LPS Bayarkan Rp14,19 Miliar Dana Nasabah PT BPR Koperindo
Wuling Siapkan Posko Mudik hingga Bengkel 24 Jam Selama Lebaran 2026
Baru 10 Hari Dibuka, Posko THR Kemnaker Sudah Terima 1.134 Konsultasi Pekerja
Lebih Dari 25 Ribu Buruh Tidak Mendapatkan THR
Mobil Listrik Polytron Salip Merek Global di Pasar Indonesia
Garuda Indonesia Group Siapkan 1,3 Juta Kursi Penerbangan Selama Lebaran
Selat Hormuz Memanas, Harga Bitcoin Tergelincir Lagi di Bawah US$70.000
Efek Domino Perang Iran-AS: Potensi Defisit APBN Membengkak hingga Rp204 Triliun

Berita Terkait

Sabtu, 14 Maret 2026 - 12:23 WIB

LPS Bayarkan Rp14,19 Miliar Dana Nasabah PT BPR Koperindo

Sabtu, 14 Maret 2026 - 09:59 WIB

Wuling Siapkan Posko Mudik hingga Bengkel 24 Jam Selama Lebaran 2026

Sabtu, 14 Maret 2026 - 09:29 WIB

Baru 10 Hari Dibuka, Posko THR Kemnaker Sudah Terima 1.134 Konsultasi Pekerja

Sabtu, 14 Maret 2026 - 09:18 WIB

Lebih Dari 25 Ribu Buruh Tidak Mendapatkan THR

Jumat, 13 Maret 2026 - 10:22 WIB

Mobil Listrik Polytron Salip Merek Global di Pasar Indonesia

Berita Terbaru

Bank Perekonomian Rakyat Koperindo, yang berlokasi di Wisma Techking 2, Jl. A.M Sangaji No.24 3, RT.3/RW.4 10130 Petojo Utara, Jakarta Pusat. Izin BPR Koperindo dicabut oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhitung sejak tanggal 9 Maret 2026. (Dok: LPS)

Ekonomi & Bisnis

LPS Bayarkan Rp14,19 Miliar Dana Nasabah PT BPR Koperindo

Sabtu, 14 Mar 2026 - 12:23 WIB

Ekonomi & Bisnis

Wuling Siapkan Posko Mudik hingga Bengkel 24 Jam Selama Lebaran 2026

Sabtu, 14 Mar 2026 - 09:59 WIB

Presiden KSPI sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal

Ekonomi & Bisnis

Lebih Dari 25 Ribu Buruh Tidak Mendapatkan THR

Sabtu, 14 Mar 2026 - 09:18 WIB